Aku bertangguh dalam hal ini,
Semoga Allah bersamaku.
Dinding putih itu,kokoh.
Pohon kembang itu,berani.
Nisan-nisan itu,menyeringai.
Seolah menantang keimananku.
Bagaimana aku tak goyah?
Lolongan anjing mengambil andil gilirannya.
Kumpulan itu semakin mempermanis.
Ohh,Bulan.
Kemana engkau pergi?
sertailah malamku ini.
Hati yang bergetar hebat,terus memacu langkah setapak.
Haruskah kutumpahkan air mataku sekarang?
Tidak ada jalan kembali !
Tujuanku hanyalah Warung Bu Andy !
Mungkin arwah-arwah itu enggan menggodaku.
Seiring dzikir yang tak henti kuucap.
Tapi,apa peduli anjing?
Aroma asingku telah melewati inderanya.
Peduli apa dia?
Hanya menggonggong hobinya.
Dia tidak iba betapa kaki ini terseok melewatinya.
Betapa tangan ini terkepal berkeringat menahan trauma.
Dan betapa bibir ini tak henti merapal nama Yang Kuasa.
Ternyata,Allah memang bersamaku malam ini.
Aku tidak tertelan komplek pekuburan itu.
Aku tidak tercolek segerombolan itu.
Aku tidak tersenggol anjing-anjing lelah itu.
Aku baik-baik saja.
Munkin Allah sedang menguji hati ini.
Mengingatkan pada sebuah pepatah lama,
Bahwa apa yang menakuti kita adalah rasa takut itu sendiri.
Aku boleh lemah malam ini,
tapi tidak untuk selanjutnya.
Karna malamku masih terhampar.
Hingga pesawat 25 Juni membawaku kembali pulang.
Senin, 23 Juni 2014
Distance
Seperti tanyaku pada Bintang,
aku bertanya padamu.
"Mengapa indahmu begitu jauh?"
Seperti tanyaku pada Matahari, aku bertanya padamu.
"Esok kau datang lagi,bukan?" Dan seperti tanya-tanya ku pada setiap ciptaan-Nya, kau tak menjawab. Memang tidak ada yang pasti.
Begitu juga kita.
"Apakah besok kau mendekat,Bintang?"
Tidak ada yang tau.
Aku tidak menyalahkan dirimu yang terbisu.
Tidak juga pada perasaanmu yang ambigu untukku.
Aku hanya berandai,
Suatu saat nanti seseorang datang memberiku hadiah,seperti yang kau lakukan.
Seperti kau yang mengenalkanku pada teleskop.
Tentang bagaimana merasa mendekatkan yang jauh,
Tentang bagaimana mengabadikan yang indah,
Suatu saat nanti,
ijinkan aku menemuimu.
"Mengapa indahmu begitu jauh?"
Seperti tanyaku pada Matahari, aku bertanya padamu.
"Esok kau datang lagi,bukan?" Dan seperti tanya-tanya ku pada setiap ciptaan-Nya, kau tak menjawab. Memang tidak ada yang pasti.
Begitu juga kita.
"Apakah besok kau mendekat,Bintang?"
Tidak ada yang tau.
Aku tidak menyalahkan dirimu yang terbisu.
Tidak juga pada perasaanmu yang ambigu untukku.
Aku hanya berandai,
Suatu saat nanti seseorang datang memberiku hadiah,seperti yang kau lakukan.
Seperti kau yang mengenalkanku pada teleskop.
Tentang bagaimana merasa mendekatkan yang jauh,
Tentang bagaimana mengabadikan yang indah,
Suatu saat nanti,
ijinkan aku menemuimu.
DUHAI
Aku tidak tau untuk apa aku ujian.
Aku tidak tau untuk apa aku bernilai sempurna.
Aku tidak tau untuk apa aku disini.
Apakah aku menunngu takdir?
Apakah aku memperbaiki nasib?
Apakah aku merajut mimpi?
Berapa biaya sudah terkuras,untuk masa transisi yang tak pasti.
Aku tak pernah mengobral janji, tidak juga menjanji mumpuni.
Mungkin rambut-rambut ini pertanda fikir yang terforsir.
Karna siang malam berfikir durja.
Menerka,manakah tujuan setelah ini?
Teranggap sukseskah aku?
Duhai,
Tolonglah anakmu ini.
Dia dalam kebingungan.
Hilangkan tanya tanya itu.
Tegakah kau melihatnya tua di waktu muda?
Tegakah kau memesan tempat di rumah sakit jiwa?
Duhai,
Lihatla anakmu ini,
Dia tidak tau apa yang diperbuatnya.
Dia tidak bisa menjanji apa apa
Dia hanya ingin masa muda.
Duhai,
Bila boleh kita membanding,
Harta bukan segalanya.
Jantung pun mati tanpa nafas.
Duhai,
Andai bila dirimu menengok
Putaran pita suara yang terucap
Sakit,menusuk hati
Pilu,merobek asa.
Duhai,
Buanglah saja aku.
Karna janjiku tak banyak
Lepaskan saja aku.
Karna aku hanya ingin bahagia,.
Aku tidak tau untuk apa aku bernilai sempurna.
Aku tidak tau untuk apa aku disini.
Apakah aku menunngu takdir?
Apakah aku memperbaiki nasib?
Apakah aku merajut mimpi?
Berapa biaya sudah terkuras,untuk masa transisi yang tak pasti.
Aku tak pernah mengobral janji, tidak juga menjanji mumpuni.
Mungkin rambut-rambut ini pertanda fikir yang terforsir.
Karna siang malam berfikir durja.
Menerka,manakah tujuan setelah ini?
Teranggap sukseskah aku?
Duhai,
Tolonglah anakmu ini.
Dia dalam kebingungan.
Hilangkan tanya tanya itu.
Tegakah kau melihatnya tua di waktu muda?
Tegakah kau memesan tempat di rumah sakit jiwa?
Duhai,
Lihatla anakmu ini,
Dia tidak tau apa yang diperbuatnya.
Dia tidak bisa menjanji apa apa
Dia hanya ingin masa muda.
Duhai,
Bila boleh kita membanding,
Harta bukan segalanya.
Jantung pun mati tanpa nafas.
Duhai,
Andai bila dirimu menengok
Putaran pita suara yang terucap
Sakit,menusuk hati
Pilu,merobek asa.
Duhai,
Buanglah saja aku.
Karna janjiku tak banyak
Lepaskan saja aku.
Karna aku hanya ingin bahagia,.
Langganan:
Postingan (Atom)